Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Sistem Otot Manusia

Otot merupakan alat gerak aktif yang mampu menggerakkan tulang, kulit dan rambut setelah mendapat rangsangan. Otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :
  1. kontraktibilitas : kemampuan untuk berkontraksi / memendek
  2. Ekstensibilitas : kemampuan untuk melakukan gerakan kebalikan dari gerakan yang ditimbulkan saat kontraksi
  3. Elastisitas : kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula setelah berkontraksi. Saat kembali pada ukuran semula otot disebut dalam keadaan relaksasi
JENIS OTOT
1. otot lurik
  • Nama lain: otot rangka, otot serat lintang (musculus striated) atau otot involunter
  • Struktur : serabut panjang, berwarna/lurik dengan garis terang dan gelap, memiliki inti dalam jumlah banyak dan terletak dipinggir
  • Kontraksi: menurut kehendak kita (dibawah kendali sistem syaraf pusat), gerakan cepat, kuat, mudah lelah dan tidak beraturan
  • Struktur anatomi dari otot rangka seperti gambar dibawah ini!
2. Otot Polos

  • Nama lain : otot alat-alat dalam / visceral / musculus nonstriated / otot involunter
  • Struktur : bentuk serabut panjang seperti kumparan, dengan ujung runcing, dengan inti berjumlah satu terletak dibagiann tengah.
  • Kontraksi : tidak menurut kehendaK atau diluar kendali sistem saraf pusat, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah.
3. otot jantung
  • Nama lain: Myocardium atau musculus cardiata atau otot involunter
  • struktur : Bentuk serabutnya memanjang, silindris, bercabang. Tampak adanya garis terang dan gelap. memiliki satu inti yang terletak di tengah
  • Kontraksi: tidak menurut kehendak, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah
READMORE
 

Leukemia








Pendahuluan
Leukemia adalah golongan penyakit yang ditandai dengan penimbunan sel darah putih abnormal dalam sumsum tulang. Sel abnormal ini dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang, hitung sel darah putih sirkulasi meninggi dan menginfiltrasi organ lain. Dengan demikian gambaran umum leukemia mencakup sel darah putih abnormal dalam darah tepi, hitung sel darah putih total meninggi, bukti kegagalan sumsum tulang misalnya : anemia, netropenia atau trombositopenia dan keterlibatan organ lain misalnya : Hati, limpa, limfonodi, meningen, otak, kulit dan testis. Jadi Leukemia adalah Suatu penyakit keganasan (maligna) yang di tandai oleh proliferasi dan penimbunan sel-sel hematopoeitik lain dalam sumsum tulang dan beredar dalam darah tepi dengan jumlah yang besar dan umumnya terdiri atas sel muda.

Sebab leukemia belum diketahui, tapi yang diperkirakan bisa menimbulkan leukemia adalah :
1. Radiasi.
Misalnya : sinar dengan panjang gelombang pendek, sinar Gamma, sinar Beta dan lain-lain.
2. Zat kimia
Misalnya : Benzene
3. Virus
Misal : Infeksi virus Ebstein Barr
4. Faktor Genetik
Misal : Sindrome down (jumlah kromosom 47, kelebihan kromosom)

Leukemia digolongkan kedalam kelompok akut dan kronis berdasarkan derajat maturasi sel-sel ganas di dalam sumsum tulang. Leukemia akut ditandai adanya gangguan maturasi yang mengakibatkan meningkatnya sel-sel muda dan terjadi kegagalan diferensiasi sel-sel darah. Keadaan ini menyebabkan penyakit tampak sangat berat dan menyebabkan kematian dalam beberapa bulan tanpa pengobatan.

Sebaliknya pada leukemia kronik terjadi peningkatan sel matur yang tidak terkendali, sehingga penyakit tampak relatif lebih ringan. Leukemia kronik pada stadium akhir dapat menjadi progresif seperti leukemia akut.
Yang sering dipakai dalam klasifikasi yaitu :
1. Menurut Maturitas (kematangan) / kecepatan timbulnya gejala :
a. Leukemia akut
b. Leukemia kronis
2. Menurut sel yang Predominan, dibagi :
a. Leukemia Limfoid / Limfoblastik / Limfositik
b. Leukemia Non Limfoid (Mieloid) / Myeloblastik / Granulositik

A. LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT
Ini dijumpai pada anak-anak ( 80 %), usia puncak 3-4 tahun dan separuhnya remaja, usia diatas 30 tahun jarang ditemukan. Gejala klinisnya mulai secara mendadak. Gejala klinis :
1. Karena kegagalan sumsum tulang :
Pucat, lemas ini disebabkan karena anemia, demam dan infeksi ini disebabkan gangguan fungsi leukosit, Perdarahan / mudah berdarah, purpura kecil dan besar (Ptechiae & Acchymoses), ini karena thrombositopenia.
2. Karena infiltrasi ke organ : Nyeri tulang, limpadenopati, spleenomegali sedang, hepatomegali, sindrom meningeal yaitu : sakit kepala, muntah, penglihatan kabur dan nausea.
Pemeriksaan Laboratorium :
1. Anemia Normokrom Normositik dan anemia sangat menyolok dengan retikulosit rendah.
2. Hitung jumlah leukosit bisa mencapai 500.000/mm3. Tetapi kadang bervariasi jumlahnya.
3. Trombositopenia. Jumlah dapat bervariasi tergantung infiltrasi sel leukemik.
4. Hitung jenis : ditemukan limfoblast sebagai sel predominant yang mencapai 50-90%.
Klasifikasi Leukemia Limphoblastik Akut menurut FAB (French-American-British) yaitu :
Type L1 Type L2 Type L3
Penampilan Homogen Heterogen Homogen
Ukuran sel Kecil dan uniform Besar dan variable Besar dan uniform
Bentuk inti Teratur, sedikit bercelah Tidak teratur, bercelah, berlekuk teratur, bulat
Kromatin inti homogen variabel, heterogen titik halus homogen
Anak inti Tidak ada / tidak nyata satu atau lebih besar satu / lebih nyata
Sitoplasma Sedikit Variabel, sering banyak Banyak kadang ada vacuole
B. LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT
Leukemia Mieloblastik Akut dijumpai pada orang dewasa. Gejala klinis sama dengan Leukemia Limfoblastik Akut. Khusus untuk M4 dan M5 juga ada gejala Hipertrofi dan infiltrasi gusi.
Klasifikasi menurut FAB yaitu M1 sampai M7 :
a. Komponen Granulositik Predominan
M0 = Mieloblastik tanpa maturasi. Sel Blast tanpa granula dengan batang auer atau granula azurofil
M1 = Mieloblastik dengan maturasi lebih dari 50 % sel Mieloblast dan Promielosit. Ditemukan Pseudo anomali Pelger-Huet dan granulasi kurang.
M2 = Promielosit hipergranula, batang auer ada. Leukemia ini bisa menyebabkan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
M3 = Promeilosit dan Mielosit dengan granulasi ada tanpa batang auer. Terdiri dari sel yang dominan mielosit dan metamielosit dan disertai juga seri yang lain.
b. Komponen Monositik Predominan
M4 = Mielomonositik. Promonosit dan monosit merupakan 20% sel dominan dan mieloblast dan promielosit 20% dari serinya.
M5 = Monositik. Yang mendominasi monosit dan granulosit kurang dari 10 %.
c. Komponen Erytropoitik Predominan
M6 = Erytroleukemia. Sumsum tulang 50% seri eritrosit. Mieloblast dan promielosit 30%
M7 = Megakariositic Leukemia. Sumsum tulang sel yang predominant Megakariosit dengan peningkatan yang berarti, tampak Megakariosit berbentuk abnormal. Darah perifer terjadi jumlah thronbosit sangat tinggi (thrombocytemia)
Perbedaan antara Leukemia Limfositik Akut dan Leukemia Mielositik Akut adalah :
- Pada leukemia limpositik akut tidak ditemukan Batang Auer dan pemeriksaan LAP normal
- Sedangkan pada leukemia mielositik akut ditemukan batang Auer dan pada pemeriksaan LAP tidak ada atau sangat rendah.
Pemeriksaan Laboratorium darah perifer :
- Leukosit : - Biasanya ditemukan leukositosis.
- Pada fase permulaan, pada sebagian besar kasus jumlah leukosit 20.000 – 50.000 / mm3, sedangkan pada sebagian kecil kasus jumlahnya bisa dalam batas normal , tetapi kadang-kadang ada yang mencapai 500.000 / mm3 atau lebih.
- Hematokrit : - Kurang dari normal, anemia normokromik normositer, anisositosis, poikilositosis
- Kadang terjadi retikulositosis dan polikromasia.
- Thrombosit : - kurang dari normal, mencapai 10.000 – 100.000/mm3 darah.
- Bentuknya kadang irreguler dan abnormal
- Hitung jenis : - Myeloblast : jumlahnya meninggi sampai 30 %
- Promyelosit : jumlahnya meninggi juga
- Myelosit : jumlahnya kecil
- Metamyelosit : jumlahnya kecil
- Batang : jumlahnya meninggi
- Segmen : jumlahnya meninggi.
Bentuk mudanya banyak sekali dibanding bentuk agak tua (myelosit dan metamyelosit) sedikit sekali, lalu bentuk tua banyak sekali (netrofil batang & segmen). Keadaan ini dimana seakan-akan terdapat suatu kekosongan pada hitung jenis disebut Hiatus Leukemikus merupakan ciri khas dari leukemia myeloid akut. Kadang diperlukan peroksidase staining untuk mengetahui sel muda itu myeloblast & monosit atau limfoblast. Kecuali myeloblast & monosit, seri granulositik dan monositik lainnya memberi hasil positif terhadap peroksidase stanning.
C. LEUKEMIA LIMPOSITIK KRONIK
Ini ditemukan terutama pada usia lebih 40 tahun dan jenis limpositnya lebih dari 95 % adalah Limposit B. Perjalanan penyakitnya sangat lambat dan berjalan bertahun-tahun. Leukemia ini adalah satu-satunya leukemia yang tidak pernah timbul akibat radiasi. Sel B yang normal dapat hidup selama 1 tahun sedangkan pada sel B leukemik dapat hidup sampai 5 tahun. Karena produksi sel B juga meningkat sebanyak 10 kali, maka jumlah sel B menjadi sangat banyak. Sel B ini secara imunologis lumpuh dan dalam pertumbuhannya mendesak sel B normal. Leukemia limfositik kronik mengganggu fungsi imunologik, setengah jumlah penderita saat tertentu terjadi penurunan imunoglobulin, terutama Ig.M. Sepertiganya menunjukkan test Coombs’ direk positif.

Gejalanya : Limfadenopati, Spleenomegali, Hepatomegali, Pucat, Perdarahan
Pemeriksaan Laboratorium :
- Jumlah leukosit 30.000 – 200.000 / mm3.
- Jenis limposit yang ditemukan lebih 95 % terdiri dari limposit kecil dengan morfologi normal atau agak muda sehingga terlihat gambaran Monoton.
- Ditemukan Rider Cell, sel limposit yang serupa dengan monosit.
- Pada hapusan darah tepi terdapat Smudge Cell / Smear Cell / Sel coreng yaitu sel limfosit yang rusak setelah diwarnai, hanya inti kelihatan, bentuk irreguler.
- Juga ditemukan trombositopenia, Anemia Hemolitik, Hipogammaglobulinemia (terutama Ig.M) , test Coombs direk positif, juga ditemukan Gamopati Monoklonal.

D. LEUKEMIA MIELOSITIK KRONIK
LMK merupakan penyakit keganasan pertama yang dijumpai dengan kelainan genetic spesifik yaitu pada krosomom nomor 22 (Ph’ kromosom). Pada lebih dari 90 % pasien terdapat pergantian sumsum tulang normal oleh sel dengan kromosom golongan G abnormal (nomor 22)-kromosom Philadelphia atau Ph. Abnormalitas terjadi karena adanya translokasi bagian lengan panjang (q) kromosom 22 ke kromosom lain, biasanya kromosom 9 pada golongan “C”. Ini adalah abnormalitas akuisita yang ada dalam semua sel granulositik, eritroid dan megakariositik yang sedang membelah dalam sumsum tulang dan juga dalam sel limposit B. LMK Ini ditemukan pada umur pertengahan, dengan puncak umur 40 – 50 tahun gejalanya rasa lelah, penurunan berat badan, rasa penuh diperut, anoreksia, berkeringat malam, Spleenomegali, Hepatomegali, nyeri sternum, ekimosis, kadang-kadang ditemukan Purpura Limfadenopati dan Gout atau Pirai.

Pemeriksaan Laboratorium :
- Jumlah erytrosit, hematokrit dan hemoglobin (7-9 g/dl) kurang dari normal dengan Anemia normokromik normositer
- Jumlah leukosit lebih dari 80.000 / mm3 dengan variasi 80.000 – 800.000/ mm3. leukositosis sangat berat > 500.000/mm3 dijumpai pada anak-anak.
- Jumlah thrombosit bervariasi (awalnya terjadi thrombositosis 1.000.000/ mm3 lalu stadium lanjut menjadi thrombositopenia). Pada hapusan darah thrombosit mengelompok.
- Jumlah Basofil meningkat (Basophilia) dan juga Eosinifilia secara absolut. Pada fase lanjut (fase akselerasi) terjadi basophilia > 20 %.
- Pada pemeriksaan darah tepi dijumpai seluruh stadium diferensiasi tetapi yang predominant adalah sel-sel yang tua-tua seperti Mielosit, Metamielosit, N.batang dan N.segmen sedangkan Mieloblast dan Promielosit (dibawah 15%) tetap dalam jumlah sedikit.
- Asam urat jumlahnya meningkat dalam plasma.
- Yang khas dalam leukemia ini ditemukannya Kromosom Philadelphia yaitu Kromosom nomor 22 yang telah kehilangan kedua lengan panjangnya, pindah ke kromosom nomor 9.

E. LEUKEMIA MONOSITIK KRONIK
Leukemia ini hampir mirip dengan leukemia myelositik, tetapi disini yang predominant sel monosit immatur dan matur juga ada disertai myeloblast dan myelosit.
Pemeriksaan Laboratorium :
- Eryhtrosit : - Hitung eritrosit rendah, hematokrit rendah dan hemoglobin rendah dengan anemia normokromik normositik.
- Leukosit : - Pada stadium permulaan anemia disertai leukopenia, lalu disusul oleh thrombositopenia.
- Granulosit menurun dan terjadi peningkatan monosit. Pada stadium progressif terjadi peningkatan monosit yang tinggi.
- Ditemukan dua tipe : Leukemia monositik tipe Schilling dengan sel monosit yang predominant dan Leukemia monositik tipe Nageli dengan monosit immatur dan juga banyak myeloblast dan myelosit.
READMORE
 

Golongan Darah


SISTEM ABO
Golongan Darah sistem ABO ditemukan oleh seorang ahli Patologi Amerika kelahiran Austria bernama Karl Landsteiner pada tahun 1900. Antigen utama dalam sistem ini disebut antigen A dan B dan antibodi utama adalah anti-A dan anti-B. Gen yang menentukan ada tidaknya aktivitas A atau B terdapat pada kromosom nomor 9. Orang normal yang berumur diatas 6 bulan selalu mempunyai antibodi yang dapat bereaksi dengan antigen A atau B apabila antigen bersangkutan tidak terdapat dalam eryhtrositnya sendiri.


Jika tidak terlihat sugroups maka dikenal empat golongan darah :
- Golongan darah A
Erythrositnya mengandung aglutinogen A dan serumnya mengandung aglutinin anti B
- Golongan darah B
Erythrositnya mengandung aglutinogen B dan serumnya mengandung aglutinin anti A
- Golongan darah O
Erythrositnya tidak mengandung aglutinogen dan serumnya mengandung aglutinin anti A dan aglutinin anti B.
- Golongan darah AB
Erythrositnya mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B sedangkan serumnya tidak mengandung aglutinin.

Walaupun anti-A dan anti-B bereaksi secara spesifik dan kuat dengan eryhtrosit yang relevan, rangsangan untuk pembentukan anti-A dan anti-B tidak ditimbulkan oleh eryhtrosit itu sendiri. Orang-orang dengan golongan darah A hanya membentuk anti-B dan mereka dengan golongan darah B hanya membentuk anti-A. Orang-orang dengan golongan darah O mempunyai baik anti-A maupun anti-B, sedangkan yang golongan darah AB tidak memiliki anti-A dan anti-B.

Anti-A dan anti-B merupakan aglutinin yang kuat dan mudah dinyatakan dengan pemeriksaan laboratorium. Aglutinin ini dengan cepat menghancurkan eryhtrosit tidak kompatibel yang masuk dalam sirkulasi melalui aktivitas komplemen.satu-satunya cara eryhtrosit inkompatibel golongan darah ABO masuk dalam sirkulasi, melalui transfusi darh yang salah, kecuali pada beberapa kasus dimana eryhtrosit janin masuk dalam sirkulasi darah ibu pada waktu hamil atau saat melahirkan.

Reaksi transfusi hemolitik pada umumnya disebabkan kesalahan dalam identifikasi penderita, kesalahan sampel darah penderita atau donor dan kesalahan administrasi.

Penetapan golongan darah menentukan jenis aglutinogen yang ada dalam darah, adakalanya disamping itu juga dilakukan penetapan jenis aglutinin yang ada dalam serum (reverse grouping dan serum grouping). Ada beberapa cara untuk menentukan golongan darah yaitu dengan cara Objek glass dan cara Tabung.

SISTEM RHESUS
Setelah sistem ABO, maka sistem Rhesus (Rh) merupakan golongan darah yang mempunyai makna klinis terpenting. Tidak seperti halnya anti-A dan anti-B yang selalu ada pada orang normal. Anti Rhesus tidak terdapat daam darah seorang tanpa rangsangan imunisasi. Antigen utama dalan sistem Rhesus adalah antigen D, yang mampu merangsang pembentukan antibodi bila eryhtrosit dengan antigen itu dimasukkan dalam sirkulasi seorang yang tidak mempunyai antigen Rh. Antigen D terdapat dalam eryhtrosit 85 % orang kulit putih, persentase ini lebih tinggi pada orang kulit hitam, Indian dan Asia. Hanya 15 % orang kulit putih yang tidak mempunyai antigen D, tetapi diantara orang-orang ini haya 50-75% akan membentuk anti-D bila sejumlah besar eryhtrosit dengan antigen D masuk dalam sirkulasi darahnya. Tidak ada golongan darah lain yang mempunyai potensi merangsang pembentukan antibodi melebihi potensi yang dimiliki oleh golongan Rhesus.

Sistem Rhesus terdiri atas bermacam-macam antigen. Orang-orang dengan eryhtrosit yang mengandung antigen D disebut Rh positif atau Rh (+) sedangkan mereka yang tidak mempunyai antigen D disebut Rh negatif, tanpa menghiraukan ada tidaknya jenis antigen sistem Rhesus yang lain.

Karena antigen D merupakan yang paling mudah merangsang pembentukan antibodi maka antigen D lah yang pertama-tama harus dicari.Antigen lain adalah seperti C, E, c dan e.


Tidak setiap orang Rhesus negatif yang terpapar pada sel Rh positif membentuk anti-D. Imunisasi lebih sering terjadi karena transfusi daripada akibat kehamilan, karena pada transfusi sel eryhtrosit Rh-positif yang masuk lebih banyak. Sekitar 20% ibu Rhesus negatif membentuk anti-D setelah mengandung janin Rh-positif, sedangkan pada transfusi pembentukan anti-D dapat terjadi pada 50-70% penderita yang ditransfusi dengan eryhtrosit Rh positif.

Anti-Rh yang dibentuk pada umumnya adalah kelas IgG. Mula-mula dibentuk IgM tetapi biasanya IgM menghilang beberapa bulan atau tahun setelah imunisasi, sedangkan IgG dapat menetap seumur hidup. Anti Rh jarang mengaktifkan komplemen. Dampak biologis anti Rh umumnya melapisi eryhtrosit dan menyebabkan penghancuran eryhtrosit dalam sistem retikuloendotelial.

Anti Rh dari darah ibu dapat melewati plasenta dan masuk kedalam sirkulasi janin. Dahulu anti-D merupakan penyebab utama penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (HDN ; Hemolytic disease of the newborn). Terapi imunosupresif dapat mencegah pembentukan antibodi pada ibu Rh-negatif, segera setelah melahirkan bayi Rh-positif. Wanita yang memiliki anti-D dalam darahnya pada awal kehamilan kemungkinan besar akan melahirkan bayi dengan penyakit HDN.

Seringkali sumsum tulang janin mengadakan respons dengan meningkatkan produksi eryhtrosit untuk mempertahankan kadar hemoglobin dan menghindarkan anemia. Peningkatan eryhtropoesis menyebabkan penglepasan sel-sel kedalam sirkulasi terlalu dini sehingga dijumpai banyak eryhtrosit berinti dalam darah tepi. Nama lain untuk HDN adalah Erythroblastosis fetalis, nama ini menunjukkan adanya eryhtrosit berinti dalam sirkulasi. Janin dengan HDN yang berat dapat meninggal karena gagal jantung kongestif pada saat hampir lahir.

Reaksi silang perlu dilakukan sebelum melakukan transfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan darah donor. Mayor crossmatch adalah serum penerima dicampur dengan sel donor dan Minor Crossmatch adalah serum donor dicampur dengan sel penerima. Jika golongan darah ABO penerima dan donor sama, baik mayor maupun minor test tidak bereaksi. Jika berlainan umpamanya donor golongan darah O dan penerima golongan darah A maka pada test minor akan terjadi aglutinasi.

Mayor Crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete Antibodies maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung saja. Cara dengan objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan. Reaksi silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja tidak dapat mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi pada suhu 37O C. Lagi pula untuk menentukan anti Rh sebaiknya digunakan cara Crossmatch dengan high protein methode. Ada beberapa cara untuk menentukan reaksi silang yaitu reaksi silang dalam larutan garam faal dan reaksi silang pada objek glass.

Serum antiglobulin meningkatkan sensitivitas pengujian in vitro. Antibody kelas IgM yang kuat biasanya menggumpalkan erythrosit yang mengandung antigen yang relevam secara nyata, tetapi antibosy yang lemah sulit dideteksi. Banyak antibodi kelas IgG yang tak mampu menggumpalkan eryhtrosit walaupun antibody itu kuat. Semua pengujian antibodi termasuk uji silang tahap pertama menggunakan cara sentrifugasi serum dengan eryhtrosit. Sel dan serum kemudian diinkubasi selama 15-30 menit untuk memberi kesempatan antibodi melekat pada permukaan sel, lalu ditambahkan serum antiglobulin dan bila pendertita mengandung antibodi dengan eryhtrosit donor maka terjadi gumpalan.

Uji saring terhadap antibodi penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir.


Read more: http://khairul-anas.blogspot.com/2012/04/golongan-darah.html#ixzz1u0xF34rj
READMORE
 

Klasifikasi Platyhelminthes


Disebut Cacing Pipih (Flat Worm) dengan ciri antara lain:
• Tubuh simetri bilateral
• Belum memiliki sistem peredaran darah
• Belum memiliki anus
• Belum memiliki rongga badan dan termasuk kelompok Triploblastik Aselomata
• Memiliki basil isap (sucker)
• Sistem saraf terdiri dari ganglion otak dan saraf-saraf tepi berupa Saraf Tangga Tali. Beberapa ada yang mempunyai alat keseimbangan Statotista.

Terdiri Dari Tiga Kelas :


1. TURBELARIA (CACING BERAMBUT GETAR).

Satu-satunya kelas yang hidup bebas (non-parasit), contohnya adalah Planaria yang mempunyai sistem ekskresi dari sel-sel api (Flame Cell). Bersifat Hermafrodit dan berdaya regenerasi cepat.

2. TREMATODA (CACING ISAP).

Jenis-jenis kelas ini adalah :

a. Fasciola hepatica (cacing hati ternak), bersifat hermafrodit.

Siklus hidupnya adalah : Telur menjadi Larva Mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea menjadi Sporokista kemudian berkembang menjadi Larva (II) yaitu redia kemudian Larva (III) yaitu serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong berupa kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air atau Nasturqium officinale).

b. Clonorchis sinensis / Opistorchis sinensis (cacing hati manusia)

Siklus hidupnya adalah: Telur menjadi Larva Mirasidium menjadi Sporokista menjadi Larva (II) yaitu redia menjadi Larva (III) yaitu serkaria menjadi Larva(IV) yaitu metaserkaria, masuk ke dalam tubuh ikan.
Contohnya adalah Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni. hidup dipembuluh darah dan merupakan parasit darah.

c. Paragonimus westermani (cacing paru)


Cacing yang menjadi parasit dalam paru-paru manusia. Sebagai hospes perantara ialah ketam (Eriocheirsinensis) dan tumbuhan air. Menyebabkan Paragonimiasis.


d. Fasciolopsis buski

Cacing yang menjadi parasit dalam tubuh manusia. Hidup di dalam usus halus. Hospes perantaranya adalah tumbuhan air. Menyebabkan Fasciolopsiasis.

3. CESTODA (CACING PITA)
Tubuhnya terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang masing-masing disebut Proglottid. Kepala disebut Skoleks dan memiliki alat isap (Sucker) yang memiliki kait (Rostelum) terbuat dari kitin. Pembentukan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut Strobilasi.

Contoh :
1. Taenia solium atau Cacing pita manusia
Menyebabkan Taeniasis solium. Pada skoleknya terdapat kait-kait. Proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya. Memiliki hospes perantara berupa babi.
Siklus hidup :
Proglottid Masak (terdapat dalam feses) bila tertelan oleh babi menjadi Embrio Heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya menjadi Larva Sistiserkus (dalam otot lurik babi) tertelan manusia kemudian menjadi cacing dewasa.

2. Taenia saginata atau Cacing pita manusia
Menyebabkan Taeniasis saginata. Pada skoleknya tidak terdapat kait-kait. Memiliki hospes perantara berupa Sapi. Daur hidupnya sama dengan Taenia solium.

3. Diphyllobothrium latum,
Menyebabkan Diphyllobothriasis. Parasit pada manusia dengan hospes perantara berupa katak sawah (Rana cancrivora), ikan dan Cyclops.

4. Echinococcus granulosus
Cacing pita pada anjing.

5. Himenolepis nana
Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus. Tidak memiliki hospes perantara.
READMORE
 

Ekosistem : Faktor Biotik dan Faktor Abiotik


EKOSISTEM :
FAKTOR BIOTIK DAN FAKTOR ABIOTIK

Ekosistem
adalah hubungan timbal balik (interaksi) antara makhluk hidup dan lingkungannya. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem.
Ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.

FAKTOR BIOTIK

Faktor biotik
adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan.
Dalam ekosistem, produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi :

a. Individu

Individu merupakan organisme tunggal. Contohnya : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia.

b. Populasi

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu. Contohnya kumpulan ikan lumba-lumba, kumpulan pohon karet dll

c. Komunitas

Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Contohnya komunitas ikan piranha di sungai Amazon.

d. Ekosistem
Ekosistem adalah hubungan timbal balik (interaksi) antara makhluk hidup dan lingkungannya.Contohnya ekosistem darat, ekosistem pantai dll


e. Biosfer

Biosfer merupakan sistem kehidupan yang paling besar karena terdiri atas gabungan ekosistem yang ada di planet bumi.

FAKTOR ABIOTIK

Faktor abiotik
adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia.
Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut :

a. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.
READMORE
 

Proses Laktasi

Untuk menghadapi masa laktasi (menyusui) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu :
a. Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli, dan jaringan lemak bertambah.
b. Keluaran cairan dari duktus laktiferus diseut coloctrum, berwarna kuning-putih susu.
c. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
d. Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesterone hilang. Maka timbul pengaruh hormone laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping iu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontarksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.


Read more: http://khairul-anas.blogspot.com/2012/04/proses-laktasi.html#ixzz1u0ukZ5ij
READMORE
 

Typhus Abdominalis


1.1. Definisi
Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa, bercirikan lesi definitif di plak Peyer, kelenjar mesenterika dan limpa, disertai oleh gejala demam yang berkepanjangan, sakit kepala dan nyeri abdomen.

1.2. Epidemiologi
Infeksi berasal dari penderita atau seorang yang secara klinik tampak sehat tetapi yang mengandung kuman yang keluar bersama faccesnya atau bersama kemih (carrier). Kuman-kuman ini mengkontaminasi makanan, minuman dan tangan. Lalat merupakan penyebar kuman typhus terpenting, karena dari tempat kotor ia dapat mengotori makanan.
Masa inkubasi (masa sejak terpapar oleh virus sampai timbulnya gejala pertama) berkisar antara 1-3 minggu (rata-rata 10-14 hari)

1.3. Etiologi
Etiologi : Salmonella typhi
• Batang gram negatif
• Termasuk dalam famili Enterobacteriaceae

1.4. Faktor Risiko
• Kebiasaan jajan di tempat-tempat yang tidak memenuhi syarat kesehatan
• Lingkungan yang kotor
• Daya tahan tubuh yang rendah

1.5. Patofisiologis
Salmonella tyhpi masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan dan atau minuman yang tercemar. Sebagian kuman akan mati akibat barier asam lambung, tapi sebagian lagi akan lolos ke dalam usus.
Sesampainya di usus, bakteri akan menembus masuk ke dinding usus halus melalui kelenjar yang disebut plak Peyer dan menimbulkan peradangan di sana. Bakteri ini kemudian berkembang biak dalam makrofag plak peyer tersebut.
Lama-kelamaan plak Peyer yang membesar akan menekan dinding usus sehingga terjadi nekrosis dan akhirnya pecah. Akibatnya kuman akan tersebar melalui darah (septikemi) ke seluruh organ tubuh.

kuman-kuman

usus
kelenjar getah bening mesentarium [berproliferasi]
ductus thoracicus
peredaran darah
kuman-kuman musnah - endotoksinnya keluar

menyebabkan gejala-gejala penyakit.

Kelainan yang timbul pada jaringan limfoid usus dapat dibagi atas beberapa tingkat :
a. Tingkat I :
• Waktu inkubasi
• Proloiferasi sel retikuloendotel yang mempunyai daya fagosit dan membentuk sel-sel besar, mengandung satu inti yang jelas (mononukleus) dan mempunyai sitoplasma yang berlebihan berwarna merah (eosinofil). Dalam sitoplasma sel-sel ini terdapat kuman atau sisa-sisa jaringan nekrotik dan eritrosit (erythrophagocytosis). Sel-sel ini disebut pula sel typhus. Akibat kerusakan pada susuan retikuloendotel sumsum tulang dan tempat hemopoiesis, maka pembentukan lekosit berkurang.
• Pelebaran pembuluh darah (hiperemi) ; lekosit jarang.
• Bercak-bercak peyer dan lymphonoduli akibat hiperemi dan hiperplasi tampak membengkak dan menonjol di atas permukaan selaput lendir. Lamanya  1 minggu.

b. Tingkat II :
• Nekrosis daripada jaringan limfoid yang membengkak itu dan mengeras seperti kerak dan disebut tingkat keropeng.

c. Tingkat III :
• Keropeng yang terdiri atas jaringan limfoid nekrotik dilepaskan, terjadilah tukak (ulkus). Tukak itu bertempat pada bercak peyer dan berbentuk lonjong dan memanjang menurut poros usus. Dasar tukak diliputi fibrin yang mengandung lekosit dan jaringan nekrotik dan secara mikroskopik tempat makrofag pada semua lapisan usus.


d. Tingkat IV :
• Tingkat resolusi (pembersihan) atau penyembuhan, jika terjadi perforasi.
• Tukak sembuh dengan regenerasi mukosa yang sempurna tanpa parut dan tanpa stenosis.

1.6. Gejala dan Tanda Klinis
Gejala- Gejala :
• Gejala biasanya diawali dengan rasa tidak enak badan, nyeri yang tidak jelas, sakit kepala dan bisa juga mimisan, konstipasi, lemas.
• Dalam beberapa hari sampai minggu, terjadi kenaikan suhu badan yang bisa mencapai lebih dari 40°C. Pada saat ini, sebuah tanda khas demam tifoid yang disebut rose spots “bintik merah muda” bisa terlihat, khususnya pada bagian perut (abdomen). Tanda yang juga dapat dijumpai pada daerah dada dan punggung ini akan telihat memudar bila ditekan.
• Pada akhir minggu pertama, terjadi gejala-gejala hematopoetik sebagai pembesaran limpa (splenomegali), lekopeni dan berkurangnya atau menghilangnya dari darah sel-sek lekosit polinukleus dan eosinofil.
• Pada minggu kedua, suhu badan akan mengalami remisi harian. Panas terutama meningkat pada malam hari dengan perbedaan temperatur lebih kurang ½ sampai 2°C dibanding pagi hari. Bila demam sangat tinggi dapat terjadi penurunan kesadaran dan penderita mengigau.
• Retensi urin cukup sering terjadi.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
• Bradikardi relatif (frekuensi denyut jantung relatif lambat bila dibanding dengan tingkat kenaikan suhu tubuh).
• Lidah tifoid (Awalnya merah di tengah dengan tepi hiperemis dan bergetar, bila penyakit berat lidah menjadi kering dan pecah-pecah serta berwarna kecoklatan).
• Perkusi abdomen: timpani
• Palpasi abdomen: Nyeri tekan khususnya di fosa iliaka
• Stupor
• Bergumam
• Delirium
• Twitching otot-otot
• Karpologia
• Koma vigil

Pada masa penyembuhan dapat terjadi :
• Anemia
• Kerontokan rambut

1.7. Pemeriksaan Laboratorium
• Pembiakan kuman dari darah penderita. Pembiakan akan positif selama minggu pertama penyakit, yaitu pada saat-saat terjadinya bekteremi.
• Tes serologi Widal ialah percobaan terhadap antibodi, berupa aglutinasi antigen-antibodi.
• Perhitungan lekosit merupakan cara penting bagi diagnosis penyakit typhus, yaitu akan ditemukan lekopeni yang terutama disebabkan menurunnya jumlah sel polinukleus dan sering menghilangnya sel eosinofil.
• Pada minggu ke-3, kemih dapat mengandung kuman typhus.

1.8. Komplikasi
Komplikasi biasanya timbul pada minggu ke-3 atau ke-4 dan terjadi pada ± 25% kasus yang tidak mendapatkan pengobatan. Kematian sering mengikuti komplikasi ini. Komplikasi tersebut antara lain :
• Gangguan metabolik
• Perdarahan saluran cerna
• Perforasi saluran cerna
• Peritonitis
• Hepatitis tifosa
• Pnemonia
• Ensefalopati tifosa
• Abses otak
• Meningitis
• Osteomielitis
• Endokarditis
• Abses pada berbagai organ
• Komplikasi yang paling sering terjadi dan berbahaya adalah perdarahan dan perforasi saluran cerna. Turunnya suhu tubuh secara drastis sering menjadi pertanda terjadinya komplikasi tersebut.

1.9. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul :
• Peningkatan suhu tubuh : hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (bakterimia).
• Nyeri berhubungan dengan patofisiologis penyakit.
• Potensial terjadinya pendarahan intraabdominalis berhubungan dengan lekopeni
• Gangguan pola eliminasi behubungan dengan konstipasi.

1.10. Penatalaksanaan
• Isolasi penderita (untuk mencegah penularan)
• Tirah baring
• Diet bergizi tinggi dan mudah dicerna. Makanan sebaiknya tidak banyak mengandung serat dan tidak merangsang (seperti pedas dan asam)
• Masukan cairan harus cukup
• Kompres hangat bila terjadi panas tinggi
• Pembedahan kadang diperlukan bila penggunaan obat-obatan dan dekompresi usus gagal mengatasi perdarahan saluran cerna yang berat. Tindakan tersebut juga dibutuhkan bila terjadi perforasi usus.

1.11. Farmakoterapi
• Antibiotika
Antibiotika diberikan berdasarkan tes sensitivitas. Antibiotika yang umumnya dipergunakan antara lain :
- Kloramfenikol
- Ampisilin
- Trimetoprim-Sulfametoksasol
- Quinolon
• Antipiretik
Umumnya yang dipergunakan adalah parasetamol

1.12. Pencegahan
• Tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan
• Pilih makanan yang telah diolah dan disajikan dengan baik (memenuhi syarat kesehatan)
• Jamban keluarga harus cukup jauh dari sumur (harus sesuai standar pembuatan jamban yang baik)
• Imunisasi

DAFTAR PUSTAKA
Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.1. Jakarta : EGC.
Soepaman, Sarwono Waspadji. 2001. Ilmu Penyakit dalam Jilid II Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
http://www.mediastore.co.id/kesehatan/news/0602/08/095423.htm
http://www.infokesehatan.co.id
READMORE
 

Struktur dan Fungsi Mikrotubulus


Mikrotubulus adalah polimer dari dimers tubulin α dan β. Tubulindimers berpolimerasi dari akhir ke akhir protofilaments. Fungsi daripada tubulin adalah menarik kromatid menuju kutub pembelahan. Protofilaments lalu mengumpul dikawat pijar silindris yang berongga. Biasanya, protofilaments mengatur sendiri dalam bentuk helix tidak sempurna dengan helix berisi 13 tubulin dimers masing-masimg dari berbeda protofilament. 

Ciri-ciri penting dari struktur mikrotubulus adalah polaritas. Tubulin berpolimerasi dan selalu berakhir dengan sub-kesatuan α suatu tubulin dimers menghubungi sub-kesatuan β yang berikutnya. Oleh karena itu, di protofilaments pada satu bagian akhir akan mempunyai sub-kesatuan β terbuka. Mikrotubulus berbentuk benang silindris, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai rangka sel. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan.

Selain itu mikrotubulus berguna dalam pembentukan sentriol,flagel dan silia. Mikrotubulus adalah tabung yang sdisusun dari mikrotubulin, bersifat lebih kokoh dari aktin, mikrotubulus memiliki dua ujung;ujung negatif yang terhubung dengan pusat pengatur mikrotubulus, dan ujung positif yang berada di dekat membran plasma. Organel dapat meluncur disepanjang mikrotubulus untuk mencapai posisi yang berada didalam sel, terutama saat pembelahan sel.
Mikrotubukus mempunyai fungsi mengarahkan gerakan komponen-komponen sel, mempertahankan bentuk sel serta membantu pembelahan sel secara mitosis.

Read more: http://khairul-anas.blogspot.com/2012/04/struktur-dan-fungsi-mikrotubulus.html#ixzz1u0uN2flO
READMORE
 

Indeks Eritrosit


Nilai Erytrosit Rata-rata (Indeks Erythrosit)

Tujuan : Untuk mengetahui dan menentukan derajat anemia dan jenis anemia yang terjadi pada seseorang.


Ada 3 macam index erythrosit yaitu :

1. Volume Index (V.I) dan MCV
2. Color Index (C.I) dan MCH
3. Saturation Index (S.I) dan MCHC
Ketiga index ini gunanya untuk mengetahui ukuran dan jumlah Hb dalam eryhtrosit rata-rata. Nilai yang banyak di pakai ialah :
1. Mean Corpuscular Volume (MCV).
Nilai normal : 80 – 94 u3 (mikron kubik). Untuk mencari MCV ini harus diketahui nilai hematokrit dan jumlah erythrosit per mm3 darah. MCV ini menyatakan volume rata-rata dari sebuah erythrosit.
Rumus : MCV = Hematokrit x 10 u3
Erythrosit
2. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
Nilai normal : 28 – 32 pikogram. Untuk mencari MCH ini harus diketahui nilai hemoglobin dan erythrosit per mm3 darah. MCH ini menyatakan banyaknya Hemoglobin dalam Erythrosit rata-rata.
Rumus : MCH = Hemoglobin x 10 pg
Erythrosit
3. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
Nilai normal : 32 – 36 %. Untuk mencari MCHC ini harus diketahui nilai Hemoglobin dan Hematokrit darah. MCHC ini menyatakan banyaknya kadar Hemoglobin yang didapat dalam erythrosit rata-rata.
Rumus : MCHC = Hemoglobin x 100 %
Hematokrit
Isi erythrosit rata-rata digunakan untuk menetapkan apakah anemia itu Makrocytair, Normocytair atau Mikrocytair.
1. Anemia Makrocytair : MCV lebih dari 94 u3
2. Anemia Normocytair : MCV rata-rata 80 – 94 u3
3. Anemia Mikrocytair : MCV kurang dari 80 u3

Color Index = Hb yang didapat : Erythrosit yang dihitung
Hb normal Eryhtrosit normal
Normal Color Index = 0,9 - 1,1

Volume Index = PCV yang didapat : Erythrosit yang dihitung
PCV normal Eryhtrosit normal
Normal Volume Index = 0,9 - 1,1

Saturation Index = Hb yang didapat : Hematokrit yang dihitung
Hb normal Hematokrit normal
Normal Saturation Index = 0,9 - 1,1

Untuk MCH dan Indeks warna gunanya untuk menetapkan apakah anemia itu : Anemia Hyperkhrom, Anemia Normokhrom atau Anemia Hypokhrom.
1. Anemia Hyperkhrom : MCH lebih dari 32 pg
2. Anemia Normokhrom : MCH rata-rata 28 – 32 pg
3. Anemia Hypokhrom : MCH kurang dari 28 pg
READMORE
 

Mekanisme Evolusi


Evolusi pada makhluk hidup terjadi antara lain karena adanya:

1. Variasi genetik
2. Seleksi alam

Variasi genetik terjadi oleh dua sebab utama, yaitu:

1. .adanya mutasi gen
2. adanya rekombinasi gen-gen dalam satu keturunan. Rekombinasi gen terjadi ....karena gen-gen berpasangan secara bebas pada waktu pembentukan gamet.

A. MUTASI GEN

Mutasi gen menyebabkan terjadinya penyimpangan sifat-sifat individu dari sifat yang normal. Terjadinya mutasi ini ada yang dipengaruhi oleh faktor luar, dan ada juga yang dipengaruhi oleh faktor dalam (rekombinasi gen-gen).

Mutasi gen yang tidak dipengaruhi oleh faktor luar mempunyai 2 sifat, yaitu:

1. Jarang terjadi, sebab tidak setiap rekombinasi gen menyebabkan mutasi
2. Kebanyakan tidak menguntungkan

Sekalipun demikian, mutasi ini tetap merupakan salah satu mekanisme evolusi yang sangat penting, termasuk dalam hal pembentukkan species baru dengan sifat-sifat yang lebih baik.

Jadi jika mutasi kita tinjau selama periode evolusi dari suatu species, maka tetap akan mendapatkan angka mutasi yang besar.

Hal ini terjadi karena:

1. .Setiap gamet mengandung beribu-ribu gen
2. Setiap individu mampu menghasilkan beribu-ribu bahkan berjuta-juta gamet ....dalam satu generasi
3. Jumlah generasi yang dihasilkan oleh suatu species selama kurun waktu species itu ...ada banyak sekali.

Berdasarkan hal tersebut maka angka laju mutasi pada setiap species dapat diketahui. Angka laju mutasi adalah angka yang menunjukkan berapakah jumlah gen yang bermutasi dari seluruh gamet yang dihasilkan oleh satu individu dari suatu species.

Sebagai contoh data sebagai berikut:

~ Angka laju mutasi per gen = 1 : 100.000
~ Jumlah gen dalam satu individu yang mampu bermutasi = 1000
~ Perbandingan mutasi yang menguntungkan dengan mutasi yang merugikan = 1 : ..1000
~ Jumlah populasi setiap generasi = 200 juta
~ Jumlah generasi selama species itu ada = 5000

Pertanyaan yang muncul adalah berapakah kemungkinan terjadinya mutasi yang menguntungkan selama species itu ada?

Jawab:
Jumlah mutasi gen yang menguntungkan yang mungkin terjadi adalah:

~ Pada satu individu:
..= 1/100.000 x 1000 x 1/1000 = 1/100.000

~ Pada tiap generasi:
..1/100.000 x 200.000.000 = 2000

~ Selama species itu ada (5000 generasi)
..2000 x 5000 = 10.000.000

Jadi terbukti, sekalipun mutasi tersebut jarang terjadi dan mutasi yang menguntungkan sangat kecil kemungkinannya, tetapi jika ditinjau selama periode evolusi suatu species maka kemungkinan terjadinya mutasi yang adaptif akan tetap besar.

Ada tiga fakta penting yang muncul pada peristiwa mutasi, yaitu:

1. Mutasi muncul secara spontan dan tidak di arahkan oleh alam
2. Mutasi dapat terjadi lagi pada mutan
3. Mutasi pada umumnya merugikan organisme yang mengalaminya.

Materi mekanisme evolusi selengkapnya Download disini

Lembar kegiatan siswa Mekanisme evolusi Dowload disini

Soal latihan Mekanisme Evolusi Download disini

Read more: http://khairul-anas.blogspot.com/2012/04/mekanisme-evolusi.html#ixzz1u0s2nOdf
READMORE
 

Sistem Rangka Manusia


PENDAHULUAN
Sistem rangka melakukan banyak fungsi penting diantaranya menyusun bentuk tubuh, perlindungan, gerakan tubuh, membentuk sel-sel darah, dan tempat penyimpanan mineral.

FUNGSI

- Rangka tubuh manusia dibentuk oleh tulang-tulang yang berjumlah 206 buah, membentuk kerangka yang kaku dengan jaringan-jaringan dan organ-organ yang melekat padanya
- Sistem rangka melindungi organ-organ vital seperti otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak, paru-paru dan jantung dilindungi oleh tulang dada dan tulang rusuk
- gerakan tubuh terbentuk dari kerjasama antara sistem rangka dengan otot, oleh sebab itu keduanya sering dikelompokkan menjadi satu nama yaitu sistem musculo-skeletal
- rangka merupakan tempat melekatnya otot melalui perantaraan tendon. Antara tulang yang satu dengan tulang yang lain dikaitkan dengan perantaraan ligamen. Hubungan antara dua tulang disebut sendi
Sendi
atau artikulasi adalah hubungan antara dua tulang. berdasarkan gerakannya sendi dibedakan menjadi 3 jenis: sendi mati, sendi kaku dan sendi gerak
Sendi mati (sinarthrosis), karakter dari sendi ini adalah hubungan antara tulang yang satu dengan tulang yang lain sangat dekat, dan hanya dipisahkan oleh serabut jaringan ikat. Sendi sinarthrosis ini terdapat pada hubungan antara tulang-tulang tengkorak yang dikaitkan oleh sutura
Sendi kaku (Amfiathrosis), karakterisitik dari sendi ini adalah tulang-dengan tulang dihubungkan oleh tulang rawan hialin. Contoh sendi ini terdapat pada hubungan antara tulang rusuk dengan tulang dada yang dihubungkan oleh tulang rawan hialin.
Sendi gerak (Diarthrosis), sebagian besar sendi yang terdapat dalam tubuh manusia adalah sendi gerak. Terdapat enam jenis sendi yang termasuk sendi gerak yaitu:
1. Sendi engsel

Pada sendi engsel, kedua ujung tulang berbentuk engsel dan berporos satu. gerakannya hanya satu arah seperti gerak engsel pintu. Contoh sendi pada siku (hubungan antara tulang humerus/lengan atas dengan tulang radius ulna/pengumpil hasta, dan hubungan antara tulang femur/paha dengan tulang tibia fibula /kering betis) sendi pada mata kaki, dan sendi antar ruas jari
2. Sendi putar
Pada sendi putar, ujung tulang satu mengitari ujung tulang lain. Bentuk seperti ini memung- kinkan gerakan rotasi dengan satu poros. Contoh sendi antara tulang hasta/ulna dengan tulang pengumpil/radius
3. Sendi Pelana atau sendi sela
Pada sendi pelana, kedua ujung tulang membentuk sendi berbentuk pelana dan berporos dua, tetapi dapat bergerak lebih bebas seperti gerakan orang naik kuda. Contoh sendi antara tulang telapak tangan dengan tulang pergelangan tangan.
4. Sendi kondiloid atau elipsoid

Sendi kondiloid memungkinkan gerakan berporos dua dengan gerakan ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Ujung tulang yang satu berbentuk oval dan masuk kedalam suatu lekuk berbentuk elips. Contoh sendi antara tulang pengumpil dengan tulang pergelangan tangan
5. Sendi peluru
Pada sendi peluru, kedua ujung tulang berbentuk lekuk dan bonggol. Bentuk ini memungkinkan gerakan bebas ke segala arah dan dapat berporos tiga. Contoh sendi antara tulang humerus/lengan atas dengan tulang gelang bahu, dan sendi antara tulang gelang panggul dengan tulang femur /paha
6. Sendi luncur
Pada sendi ini, kedua ujung tulang agak rata sehingga menimbulkan gerakan menggeser dan tidak berporos. Contoh sendi antar tulang pergelangan tangan, antar tulang pergelengan kaki, antar tulang selangka, dan antar tulang belikat

Otot yang menyebabkan pergerakan sendi, melakat pada dua buah tulang yang berbeda dengan perantaraan tendon.Contoh otot melekat pada satu ujung di pangkal tulang humerus, dan ujung lainnya melekat pada tulang pengumpil hasta. Jika otot bisep berkontraksi, maka otot trisep relaksasi. Aktivitas kedua jenis otot ini menimbulkan gerakan menekuk di siku-siku. Jika otot trisep berkontraksi dan otot bisep relaksasi, aktivitas kedua otot tersebut meluruskan kembali lengan.

Sel-sel darah merah (eritrosist) diproduksi di sumsum tulang. Setiap menit dihasilkan rata-rata 2,6 juta sel darah merah baru untuk menggantikan sel darah merah yang telah tua dan dihancurkan di hati.
Tulang merupakan tempat penyimpanan mineral seperti kalsium dan pospor. bila kadar mineral dalam darah tinggi maka akan disimpan di sumsum tulang, demikian sebaliknya bila kadar mineral dalam darah kurang maka akan diambil dari cadangan mineral yang ada dalam tulang


PEMBAGIAN RANGKA TUBUH MANUSIA
Rangka tubuh manusia dikelompokkan atas dua bagian yaitu:
A. Skeleton aksial
Terdiri atas sekelompok tulang yang menyusun poros tubuh dan memberikan dukungan dan perlindungan pada organ di kepala, leher dan badan
Skeleton aksial terdiri dari:
  1. Tulang Tengkorak
  2. Tulang dada
  3. Tulang rusuk
  4. ruas-ruas tulang belakang
Tulang Tengkorak Tulang-tulang tengkorak merupakan tulang yang menyusun kerangka kepala. Tulang tengkorak tersusun atas 8 buah tulang yang menyusun kepala dan empat belas tulang yang menyusun bagian wajah. tulang tengkorak bagian kepala merupakan bingkai pelindung dari otak.
Jenis-jenis tulang tengkorak adalah:


1. Tulang tengkorak bagian kepala terdiri dari:
  • bagian parietal --> tulang dahi
  • bagian temporal --> tulang samping kiri kanan kepala dekat telinga
  • bagian occipitas --> daerah belakang daritengkorak
  • bagian spenoid --> berdekatan dengan tulang rongga mata, seperti tulang baji
  • bagian ethmoid --> tulang yang menyususn rongga hidung
Sendi yang terdapat diantara tulang-tulang tengkorak merupakan sendi mati yang disebut sutura.
2, Tulang tengkorak bagian wajah terdiri dari:
  • rahang bawah --> menempel pada tulang tengkorak bagian temporal. hal tersebut merupakan satu-satunya hubungan antar tulang dengan gerakan yang lebih bebas
  • Rahang bawah --> menyusun sebagian dari hidung, dan langit-langit
  • palatinum (tulang langit0langit) --> menyusun sebagian dari rongga hidung dan bagian atas dari atap rongga mulut
  • zigomatik --> tulang pipi
  • tulang hidung
  • Tulang lakrimal --> sekat tulang hidung
Tulang dada
Tulang dada termasuk tulang pipih, terletak di bagian tengah dada. pada sisi kiri dan kanan tulang dada terdapat tempat lekat dari rusuk. bersama-sama dengan rusuk, tulang dada memberikan perlindungan pada jantung, paru-paru dan pembuluh darah besar dari kerusakan
Tulang dada tersusun atas 3 tulang yaitu:

  • tulang hulu / manubrium. terletak di bagian atas dari tulang dada, tempat melekatknya tulang rusuk yang pertama dan kedua
  • Tulang badan / gladiolus, terletak dibagian tengah, tempat melekatnya tulang rusuk ke tiga sampai ke tujuh, gabungan tulang rusuk ke delapan sampai sepuluh.
  • Tulang taju pedang / xiphoid process, terletak di bagian bawah dari tulang dada. Tulang ini terbentuk dari tulang rawan
Tulang Rusuk
Tulang rusuk berbentuk tipis, pipih dan melengkung. bersama-sama dengan tulang dada membentuk rongga dada untuk melindungi jantung dan paru-paru. Tulang rusuk dibedakan atas tiga bagian yaitu:
  • Tulang rusuk sejati berjumlah tujuh pasang. Tulang-tulang rusuk ini pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan
  • Tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang. Tulang rusuk ini memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan tulang rusuk sejati. Pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ketiga ujung tulang bagian depan disatukan oleh tulang rawan yang melekatkannya pada satu titik di tulang dada
  • Rusuk melayang berjumlah 2 pasang. Tulang rusuk ini pada ujung belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang, sedangkan ujung depannya bebas.
Tulang rusuk memiliki beberapa fungsi diantaranya 1). melindungi jantung dan paru-paru dari goncangan. 2). melindungi lambung, limpa dan ginjal. 3). membantu pernapasan. 4).


Ruas-ruas tulang belakang
Ruas-ruas tulang belakang disebut juga tulang belakang disusun oleh 33 uah tulang dengan bentuk tidak beraturan. ke 33 buah tulang tersebut terbagai atas 5 bagian yaitu:
  • tujuh ruas pertama disebut tulang leher. ruas pertama dari tulang leher disebut tulang atlas, dan ruas kedua berupa tulang pemutar atau poros. bentuk dari tulang atlas memungkinkan kepala untuk melakukan gerakan atau goyangan "ya" atau goyangan "tidak"
  • Dua belas ruas berikutnya membentuk tulang punggung. Ruas-ruas tulang punggung pada bagian kiri dan kanannya merupakan tempat melekatnya tulang rusuk
  • Lima ruas berikutnya merupakan tulang pinggang. Ukuran tulang pinggang lebih besar dibandingkan tulang punggung. Ruas-ruas tulang pinggang menahan sebagian besar berat tubuh dan banyak melekat otot-otot
  • Lima ruas tulang kelangkangan (sacrum), yang menyatu, berbentuk segitiga terletak dibawah ruas-ruas tulang pinggang.
  • bagian bawah dari ruas-ruas tulang belakang disebut tulang ekor (coccyx), tersusun atas 3 sampai dengan 5 ruas tulang belakang yang menyatu.
Ruas-ruas tulang belakang berfungsi untuk menegakkan badan dan menjaga keseimbangan. menyokong kepala dan tangan, dan tempat melekatnya otot, rusuk dan beberapa organ


B. Skeleton apendikular
Tersusun atas tulang tulang yang merupakan tambahan dari skeleton axial. Skeleton axial terdiri dari :
  • Anggota gerak atas
  • anggota gerak bawah
  • gelang panggung
  • bagian akhir dari ruas-ruas tulang belakang seperti sakrum dan tulang coccyx
Tulang anggota gerak atas (extremitas superior)
Tulang penyusun anggota gerak atas tersusun atas:
  1. Humerus / tulang lengan atas. Termasuk kelompok tulang panjang /pipa, ujung atasnya besar, halus, dan dikelilingi oleh tulang belikat. pada bagian bawah memiliki dua lekukan merupakan tempat melekatnya tulang radius dan ulna
  2. Radius dan ulna / pengumpil dan hasta. Tulang ulna berukuran lebih besar dibandingkan radius, dan melekat dengan kuat di humerus. Tulang radius memiliki kontribusi yang besar untuk gerakan lengan bawah dibandingkan ulna.
  3. karpal / pergelangan tangan. tersusun atas 8 buah tulang yang saling dihubungkan oleh ligamen
  4. metakarpal / telapak tangan. Tersusun atas lima buah tangan. Pada bagian atas berhubungan dengan tulang pergelangan tangan, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan tulang-tulang jari (palanges)
  5. Palanges (tulang jari-jari). tersusun atas 14 buah tulang. Setiap jari tersusun atas tiga buah tulang, kecuali ibu jari yang hanya tersusun atas 2 buah tulang.
Tulang anggota gerak atas (ekstremitas inferior)
Tulang anggota gerak bawah disusun oleh tulang:

  1. Femur / tulang paha. Termasuk kelompok tulang panjang, terletak mulai dari gelang panggul sampai ke lutut.
  2. Tibia dan fibula / tulang kering dan tulang betis. Bagian pangkal berhubungan dengan lutut bagian ujung berhubungan dengan pergelangan kaki. Ukuran tulang kering lebih besar dinandingkan tulang betis karena berfungsi untuk menahan beban atau berat tubuh. Tulang betis merupakan tempat melekatnya beberapa otot
  3. Patela / tempurung lutut. terletak antara femur dengan tibia, bentuk segitiga. patela berfungsi melindungi sendi lutut, dan memberikan kekuatan pada tendon yang membentuk lutut
  4. Tarsal / Tulang pergelangan kaki. Termasuk tulang pendek, dan tersusun atas 8 tulang dengan salah satunya adalah tulang tumit.
  5. Metatarsal / Tulang telapak kaki. Tersusun atas 5 buah tulang yang tersesun mendatar.
  6. Palanges / tulang jari-jari tangan. Tersusunetiap jari tersusun atas 3 tulang kecuali tulang ibu jari atas 14 tualng.
Tulang gelang bahu (klavikula dan scapula / belikat dan selangka)
Tulang gelang bahu disebut juga tulang pectoral bahu tersusun atas 4 buah tulang yaitu 2 tulang belikat (skapula) dan 2 tulang selangka ( klavikula).

Tulang selangka berbentuk seperti huruf "S", berhubungan dengan tulang lengan atas (humerus) untuk membentuk persendian yang menghasilkan gerakan lebih bebas, ujung yang satu berhubungan dengan tulang dada sedangkan ujung lainnya berhubungan dengan tulang belikat.
Tulang belikat (skapula) berukuran besar, bentuk segitiga dan pipih, terletak pada bagian belakang dari tulang rusuk.
Fungsi utama dari gelang bahu adalah tempat melekatnya sejumlah otot yang memungkinkan terjadinya gerakan pada sendi

Gelang Panggul
Tulang gelang panggul terdiri atas dua buah tulang pinggung. Pada anak anak tulang pinggul ini terpisah terdiri atas tiga buah tulang yaitu illium (bagian atas), tulang ischiun (bagian bawah) dan tulang pubis (di bagian tengah). (Lihat gambar)
Dibagian belakang dari gelang panggul terdapat tulang sakrum yang merupakan bagian dari ruas-ruas tulang belakang. Pada bagian depan terdapat simfisis pubis merupakan jaringan ikat yang menghubungkan kedua tulang pubis.
Fungsi gelang panggung terutama untuk mendukung berat badan bersama-sama dengan ruas tulang belakang. melindungi dan mendukung organ-organ bawah, seperti kandung kemih, organ reproduksi, dan sebagai tempat tumbuh kembangnya janin.

JENIS TULANG
Jenis tulang yang menyusun tubuh manusia secara umum dibedakan atas 4 kelompok yaitu:
  • Tulang panjang : terdapat pada t. lengan atas (humerus), t. radius / pengumpil, t. ulna / hasta, t. metakarpal / telapak tangan
  • Tulang pendek: terdapat pada tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki
  • Tulang pipih : terdapat pada tulang rusuk, t. dada, t. tengkorak, dan gelang bahu
  • Tulang tidak beraturan: terdapat pada beberapa tulang tengkorak, dan ruas-ruas tulang belakang.
STRUKTUR TULANG
Tulang keras memiliki dua macam bentuk yaitu tulang kompak yang padat dan keras dan tulang spons yang berlubang-lubang dan rapuh. Tulang kompak bentuknya padat, keras dan membentuk perlindungan luar untuk jaringan tulang lainnya.
Tulang spons terletak di bagian dalam dari tulang kompak, rapuh dan memiliki banyak pori atau rongga-rongga. tulang spons terdapat pada ujung-ujung dari tulang kompak.
Jaringan tulang disusun oleh beberapa bentuk sel tulang, yang terdapat dalam cairan ekstraseluler (matriks) berupa garam-garam anorganik (sebagain besar berupa kalsium dan fosfor). garam-garam organik inilah yang memberikan kekuatan pada tulang dan serabut kolagen yang memberikan sifat elastis pada tulang.

SEL TULANG
Ada lima jenis sel tulang dalam jaringan tulang, yaitu:
  • Sel Osteogenik: yang memberikan tanggapan terhadap trauma, seperti fraktura (patah tulang). Sel ini memberikan perlindingan pada tulang dan membentuk sel-sel baru, sebagai pengganti sel-sel yang rusak
  • Sel osteoblast: merupakan sel-sel pembentuk sel tulang. Cel ini melakukan kegiatan sintesis dan sekresi mineral-mineral keseluruh subtansi dasar dan subtansi pada daerah yang memiliki kecepatan metabolisme yang tinggi
  • Sel osteosit: merupakan sel tulang dewasa yang terbentuk dari sel osteoblas. Sel-sel tulang ini membentuk jaringan tulang disekitarnya. Sel osteosit memelihara kesehatan tulang, menghasilkan enzim dan mengendalikan kandungan mineral dalam tulang, juga mengontrol pelepasan kalsium dari tulang ke darah.
  • Sel osteoklas: merupakan sel tulang yang besar, berfungsi untuk menghancurkan jaringan tulang. Sel osteoklas berperan penting dalam pertumbuhan tulang, penyembuhan, dan pengaturan kembali bentuk tulang
  • sel pelapis tulang: dibentuk oleh osteoblas disepanjang permukaan tulang orang dewasa. sel tulang ini mengatur pergerakan kalsiun dan fosfat dari dan kedalam tulang.

OSIFIKASI
Osifikasi adalah proses pembentukkan tulang keras dari tulang rawan (kartilago). Ada dua jenis osifikasi yaitu osifikasi intramembran dan osifikasi endokondral. Tulang keras dapat terbentuk baik melalui proses osifikasi intamembran, osifikasi endokondral atau kombinasi keduanya.
osifikasi intra membran berasal dari mesenkim yang merupakan cikal bakal dari tulang.
pada proses perkembangan hewan vertebrata terdapat tiga lapisan lembaga yaitu ektoderm, medoderm, dan endoderm. mesenkim merupakan bagian dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran.
Osifikasi endokondral adalah pergantian tulang rawan menjadi tulang keras selama proses pertumbuhan. proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada matriks tulang.
Sebagian besar tulang juga dapat terbentuk dari gabungan osifikasi intramembran dan osifikasi endokondral. pada proses ini sel mesenkim berkembang menjadi kondroblast yang aktif membelah. sel-sel kondroblas yang besar mensekresikan matriks yang berupa kondrin. kondroblas berubah menjadi osteoblas yang menghasilkan osteosit dan menghasilkan mineral untuk membentuk matriks tulang.

Tulang keras dewasa merupakan jaringan hidup yang tersusun atas komponen organik dan komponen mineral. Komponen organik terdiri atas protein berupa serabut kolagen, matriks ekstraseluler dan fibroblast, dengan sel-sel hidup yang menghasilkan kolagen dan matriks.
komponen mineral tersusun atas kalsium karbonat yang memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang. Selama kehidupan individu, osteoblas terus mensekresikan mineral, sedangkan osteoklast terus mengabsorb mineral. pasien rawat inap dan astronot, tulangnya serikali rapuh disebabkan proses reabsorbsi oleh osteoklast lebih cepat dibandingkan proses sekresi oleh osteoblast.
Tulang-tulang orang yang telah berumur rapuh disebabkan komponen mineral dalam tulang tersebut mulai menurun produksinya.

TUGAS RANGKA MANUSIA UNTUK KELAS XI IPA 1 - 3 DOWNLOAD DISINI
READMORE